Yang menarik di obyek Wisata Waduk Gajahmungkur Wonogiri
Obyek Wisata Waduk Gajahmungkur di bangun di Wonogiri Jawa Tengah dengan membendung Sungai Bengawan Solo. Bengawan Solo merupakan gabungan dari dua kali kecil, yaitu Kali Tenggar dan Kali Muning, tepatnya di Desa Jeblogan, Kecamatan Karang Tengah, KabupatenWonogiri.
Dari mata air tersebut mengalir ke arah barat daya menjadi perbatasan antara Kabupaten Pacitan (JawaTimur) dan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah). Sesampainya di daerah Kakap, aliran sungai belok ke arah utara. Selanjutnya Bengawan Solo mendapat pasokan air dari beberapa sungai, yaitu Sungai Jangklot/Temon, Sungai Alang, Sungai Tirtomoyo, Sungai Wuryantoro, dan Sungai Keduang yang bermata air dari Gunung Lawu. Sungai-sungai tersebut bertemu di daerah Wonogiri bagian selatan dan barat daya.
Bengawan Solo sering mendatangkan banjir bandang. Untuk menanggulanginya, maka dibangun sebuah waduk yaitu Waduk Gajahmungkur. Pembangunan waduk ini menggenangi areal yang meliputi ±45 desa dari Kecamatan Wonogiri, Nguntoronadi, Wuryantoro, Baturetno, Giriwoyo, dan Eromoko.
Dari 12.977 KK yang harus pindah, sebanyak 11.644 KK yang menyatakan pindah dengan bertransmigrasi. Warga yang pindah secara transmigrasi menuju ke daerah Sitiung (Sumatra Barat), Sia Jujuhan (Jambi), Rimbo Bujang, Alai Ilir (Jambi), Air Lais Sebelat (Bengkulu), Pamenang (Jambi), Pematang Panggang (Sumatra Selatan), dan Ketahun (Bengukulu).
Sedangkan 1.505 KK lainnya bermukim di tempat lain (Wonogiri) dan mendapatkan lapangan pekerjaan baru. Sedangkan peresmiannya pada tanggal 17 November 1981 oleh Presiden RI, Soeharto.
Luas Daerah Tangkapan Air (WTA) Waduk Serbaguna Gajahmungkur adalah 1.350 km2, terdiri dari 1.260 km2 daerah pengaliran sungai dan 90 km2 daerah genangan waduk. Terdapat enam sungai besar yang mengalir ke Waduk Gajahmungkur, yaitu Sungai Keduang (426 km2), Sungai Tirtomoyo (206 km2), Sungai Temon (69 km2), Sungai Bengawan Solo (200 km2), Sungai Alang (235 km2), Sungai Wuryantoro (73 km2), dan sungai-sungai kecil lainnya (51 km2).
Waduk Gajahmungkur sanggup mengendalikan banjir dari 4.000 m3/detik menjadi 400 m3/detik. Waduk ini juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dengan kapatisitas 12,4 MW yang menghasilkan tenaga listrik 32.600 – 50.000 jutaKwH, dan pemanfaatan lain.
Manfaat lain dari Waduk Gajahmungkur adalah sebagai obyek pariwisata. Lokasi wisata ini terdapat di Desa Sendang sehingga sering dinamakan Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur dan Agrowisata Alam Asri Cakaran.
Keunggulan obyek wisata ini karena memiliki berbagai atraksi wisata tirta seperti keindahan genangan air waduk yang dapat dinikmati dengan menggunakan perahu motor, jetski, dan jetboat. Pengunjung dapat menikmati keindahan suasana alam sambil naik kereta kelinci dan gajah.
Selain itu, juga bisa menikmati berbagai jenis satwa seperti kera, gajah, kasuari, buaya, rusa, ular, berbagai jenis burung dan unggas, biawak, dan beruang di Taman Satwa. Even budaya yang rutin dilaksanakan adalah upacara jamasan pusaka Mangkunegara I, Ruwatan Massal, dan setiap bulan Syawal diadakan Pekan Gebyar Gajahmungkur dengan puncak acara Andum Ketupat Lebaran.
Pada even-even tersebut sering ditampilkan berbagai jenis kesenian tradisional seperti tayuban, kethek ogleng, wayang kulit, reog, dan berbagai hiburan musik. Even-even olah raga nasional dan regional yang rutin digelar di kawasan Waduk Gajah Mungkur antara lain lomba balap sepeda mengelilingi waduk, lomba marathon, offroad, dan lomba layang gantung (gantole) yaitu kegiatan olah raga udara yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1980-an.
Oleh :Parpal Poerwanto



Comments
Post a Comment